Diagnosa Kepincangan Kuda

PENDAHULUAN

Kepincangan adalah suatu keadaan dimana hewan menderita gangguan dalam penggunaan secara teratur dari satu atau lebih anggota geraknya atau dengan kata lain inkoordinasi dari fungsi anggota gerak. Suatu gejala sakit pada kaki bisa disebut pincang apabila menderita sakit di bagian kaki bawah. Pincang dapat dilihat bila terdapat rasa sakit pada kuku, gangguan mekanis atau fisik, dan gangguan syaraf (paresis dan paralysis).

Pincang terdiri dari dua macam yaitu 1) pincang tumpu, yaitu pincang yang terlihat pada waktu kuku atau kaki ditumpukan, daerah sakitnya dari carpus/tarsus ke bawah, serta ayunan kaki depan diperpanjang, dan 2) pincang gerak, yaitu pincang yang terlihat pada waktu digerakkan atau dilangkahkan, daerah sakitnya dari carpus/tarsus ke atas, serta ayunan kaki depan diperpendek.

Cara mendiagnosa kepincangan pada kuda harus berdasarkan urutan yang benar yaitu signalement, anamnesis, status present, inspeksi, palpasi, gerakan pasif, perkusi, vesitasi, diagnose, prognosa, differensial diagnose, dan terapi.

1.Signalement

Signalement dilihat berdasarkan jenis, ras, umur, jenis kelamin, berat, dan tanda khas/khusus.

2.Anamnese

Pertanyaan diajukan kepada pemilik hewan

3.Status Present

Keadaan umum pasien

4.Inspeksi

Hewan berdiri secara alami (tegak berdiri pada keempat kaki). Inspeksi dilakukan pada hewan sakit dalam tiga keadaan yaitu :

  • Waktu diam
  • Waktu berjalan/melangkah
  • Waktu berlari/bergerak cepat

Waktu diam

  • Perhatikan cara berdiri, kaki yang sakit biasanya diletakkan agak ke depan dalam keadaan istirahat (pointeran),
  • Inspeksi dimulai dari depan, samping kiri, samping kanan, dan belakang pada jarak 2-3 meter memperhatikan kelainan-kelainan (asimetris, kebengkakan, perlukaan),
  • Ada kelainan tegak atau tidak seperti abduksi, adduksi, pointeren,
  • Ada tanda-tanda khusus/khas

Waktu berjalan/melangkah

  • Apabila kuku sakit, kuda tidak berani menumpukan kaki secara normal,
  • Kaki akan lebih lama melayang (langkah diperpanjang),
  • Kepala akan digerakkan ke atas lebih tinggi apabila kaki yang sakit akan ditumpukan (untuk kai depan) untuk mengurangi rasa sakit.

Waktu berlari (dari depan dan belakang)

  • Langkahnya diperpanjang atau tidak
  • Kepala digerakkan ke atas lebih tinggi atau tidak
  • Diperhatikan kepincangan yang terlihat jelas pada lima langkah pertama kemudian tidak jelas (ada atau tidak)

Misal : * Spat/ Bone Spavin (kaki belakang)

* Navicularis disease

Untuk itu perlu dilakukan percobaan Spat, yakni :

  • Kaki belakang yang diduga sakit diflexio pada persendian tarsus selama lima menit
  • Kemudian dilarikan
  • Maka jika positif Spat, terlihat pada lima langkah pertama.

Diperhatikan apakah kaki diabduksi, adduksi, diseret, terantuk, atau diangkat. Selain ketiga cara di atas, ada cara lain sebagai tambahan pemeriksaan yaitu jalan berputar/melangkah berputar, bisa ke kanan atau ke kiri.

Kaki depan

Apabila kaki kanan sakit dan diputar ke kanan (arah jarum jam), maka hewan tersebut sakit dipaksa berjalan atau tidak mau berjalan sama sekali. Kaki kiri akan ditumpukan cepat. Apabila diputar ke kiri, kaki kanan akan dilangkahkan/ diangkat lama untuk mengurangi rasa sakit. Demikian pula sebaliknya.

Kaki belakang

Apabila sakit biasanya selalu dipointeran. Pada waktu berjalan, pinggul akan diangkat lebih tinggi (pada kaki yang sakit). Derap kaki depan akan terdengar lebih jelas dan keras. Kepincangan akan jelas dibedakan apabila hewan berjalan di tempat yang keras (aspal, jalan batu) dengan di tempat yang lunak.

Inspeksi lokal : kelainan di kuku

–          Luas/menyempit

–          Mengkilat/tidak

–          Retak/tidak

–          Ceper, penuh

–          Bagaimana perbandingan toon dan verzen

Pertama, perhatikan kuda saat istirahat dan dari kejauhan. Kadang ini bisa dilakukan ketika pemilik memberikan anamnese. Catat kondisi tubuh, konformasi, kelainan pada saat berdiri, dan perilaku kuda.

Kedua, lakukan inspeksi dengan lebih dekat. Perhatikan kelainan pada kaki, kuku, laserasi, pembengkakan pada persendian atau tendo, atropi atau bengkak pada otot, dan kelainan yang lain.

Ketiga, yang harus diperhatikan saat kuda exercise yaitu saat walk, trot, terkadang saat canter atau gallop. Terkadang trot adalah saat paling penting karena dari trot akan terlihat kuda bergerak simetri atau tidak. Tenetukan anggota tubuh mana yang mengalami kepincangan dan tingkat kepincangan. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan dari depan, samping, dan belakang. Dan juga, kuda disuruh berputar. Kuda akan cenderung tidak mau berputar ke arah kaki yang sakit. Lihat pergerakan anggukan kepala, gaya berjalan, perubahan ayunan kai, fase langkah, sudut flexi, penempatan kaki, dan durasi tumpuan. Untuk melihat perbedaannya, kuda dijalankan pada permukaan yang keras dengan ruang yang cukup untuk berjalan.

Dengan adanya pincang gerak, kepala akan turun ketika suara kaki menyentuh tanah dan naik ketika berat badab dibebankan apada kaki yang pincang. Sementara untuk pincang tumpu, ayunan kaki akan berkurang/diperpendek. Pelvis akan sedikit naik.  Kita dapat melakukan fleksio untuk mengetahui dan meneguhkan kepincangan.

5.Palpasi

  • Dilakukan palpasi dari atas ke bawah
  • Dipalpasi apakah panas, bengkak, sakit, rata/tidak
  • Diraba denyut nadi arteri digitalis, kuat atau tidak

Perabaan pada kaki dengan memperhatikan ukuran dan bentuk kaki terlebih dahulu dan dibandingkan antara yang normal dengan yang abnormal. Perhatikan adanya rasa sakit, panas, dan bengkak serta kesimetrisan. Perabaan pada coronary band untuk panas, bengkak, dan nyeri saat ditekan. Pengujian kuku dilakukan dengan hoof tester. Dilihat sensitivitas dan tanda-tanda laminitis.

Perabaan pada kaki dimulai dari daerah bahu sampai kuku. Kemudian diperhatikan adanya refleks sakit, panas, bengkak. Ada tidaknya perbesatan tendo atau ligament.

6.Gerakan pasif

Pada sendi gelang puyuh, sendi coroner, dan sendi kuku, meliputi :

–          Flexio dan extension

–          Abduksi dan adduksi

–          Traksio, rotation, dan pressio

7.Perkusi

  • Dengan menggunakan palu kecil (100 gram)
  • Perkusi di daerah kuku di dorsal, lateral, medial, palmar/plantar. Pada waktu diperkusi harus diperhatikan reaksi otot anggota gerak di atasnya, bila sakit akan timbul reaksi.
  • Kuku harus diletakkan di tempat yang rata
  • Setelah diperkusi, kuida disuruh berjalan apakah pincang/tidak, kemudian jelas/tidak

8.Vesitasi

  • Menggunakan alat vesitasi tang
  • Caranya adalah dengan menjepit bagian telapak (sole) dari dinding kuku untuk mengetahui lokasi penyakit dan derajatnya
  • Bagian yang divesitasi yaitu :
  • Bagian dorsal, lateral, dan medial
  • Telapak/sole
  • Vernen/bal
  • Cuneatum

# Alat bantu lainnya adalah :

  • Percobaan pasak
  • Anaestesia
  • Pemeriksaan secara mikroskop

Hoof tester memiliki beberapa desain yang berbeda-beda. Model yang lama berbentuk seperti tang besar, bulat, dan cukup panjang (12-18 inci). Desain yang lebih baru dapat disesuaikan dengan ukuran kuku. Ada pula model yang yang dapat diseauaikan dengan jangkauan, tebuat dari stainless steel.

Pemeriksaan kuku harus sistematis, konsisten, dan harus mencakup semua bagian kuku. Urutan yang sebenarnya dari pemeriksaan ini tidak terlalu penting, yang penting adlah penerapannya harus sama dari waktu ke waktu sehingga tidak ada yang terlewatkan. Tekanan yang diberikan pada kuku harus sama. Respon positif berupa refleks penarikan kaki. Hal ini harus dibedakan dengan refleks gugup atau kesal. Kuncinya adalah konsistensi. Respon nyeri sejati adalah respon yang dihasilkan dengan stimulus yang sama berkali-kali pada tempat yang sama dengan hasil yang sama pula. Sebaliknya penarikan karena respon gugup tidak akan terjadi kembali walaupun dilakukan berulang-ulang pada tempat yang sama

Salah satu urutan pengujian dapat dilihat pada Gambar 5. Dimulai dari quarter dan sekitar kuku/dinding kuku untuk menguji kepekaan kuku. Pemeriksaan dilakukan dengan menempatkan ujung bawah tester pada luar dinding kuku bukan pada coronet karena akan menimbulkan respon positif palsu. Setelah menyelesaikan sekitar kuku, lanjutkan di sekitar white line, kemudian urutan diulan di sekitar frog. Kondisi yang mungkin memperoleh respon positif adalah abses, memar, laminitis, dan pedal osteitis.

Langkah berikutnya adalah pengujian frog, tumit, dandaerah navicular untuk rasa sakit. Ujung atas tester ditempatkan di atas pertengahan frog dengan ujung bawah pada pada tepi kuku. Kemudian dilanjutkan dengan tumit yang membentang dari medial ke lateral. Kondisi yang mungkin menimbulkan respon positif adalah abses dan radang navicular.

Examination of a hoof with testers should be systematic, consistent, and should cover all points of the hoof..

9.Diagnosa

Pemeriksaan untuk menentukan diagnose.

10.Prognosa

Fausta/dubius/infausta

11.Diferensial diagnose

Jika ada kelainan-kelainan lain

12.Terapi

Tindakan terapi sesuai penyakitnya

Sumber:

  1. FAO. 2000. Chapter 5 : Horses, Donkeys, and Mulses. FAO Corporate Document Repository.
  2. Turoff D. 1998. The Use of Hoof Testers. The Farrier and Hoofcare Resourch Center. Basic Magazine, April 1998.
  3. Way and Lee. 1983. The Anatomy of The Horse. USA : Breakthrough Publications Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: